Saturday, May 27, 2017

Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)


Limbah yang mengandung bahan yang memiliki sifat racun dan berbahaya di sebut dengan limbah B3. Menurut PP No. 19 tahun 1994 karakteristik limbah yang tergolong dalam limbah bahan berbahaya dan beracun yang disingkat dengan limbah B3 adalah mudah meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif, beracun, menyebabkan infeksi, korosif, bersifat sebagai oksidator dan reduktor yang kuat, serta mudah membusuk. Limbah ini pada umumnya dihasilkan dari aktivitas pabrik dan industri. Menurut EPA (US Environmental Protection Agency), dari limbah-limbah yang dihasilkan oleh aktivitas industri sebanyak 10- 15% adalah limbah yang berbahaya (Polprasert dan Liyanage, 1996). Meskipun limbah B3 hanya sebagian kecil dari jumlah limbah, tapi berpotensi lebih besar untuk membahayakan manusia, sehingga penanganannya tidak dapat ditunda.

Berdasarkan nilai ekonominya, limbah dibagi menjadi limbah yang bernilai ekonomis dan yang tidak bernilai ekonomis. Limbah yang bernilai ekonomis akan memiliki nilai tambah jika diolah kembali, sedangkan limbah non ekonomis adalah limbah yang tidak akan memberi nilai tambah meskipun telah diproses.Sementara itu, berdasarkan karakteristiknya, limbah dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu  limbah padat, cair, dan gas (Kristanto, 2004).

2.1.1.1 Limbah Cair

Pada dasarnya, limbah air tidak memberi efek pencemaran sepanjang kandungannya tidak membahayakan. Persoalan penting dalam pengelolaan ini adalah bagaimana agar bagaimana mengolah limbah sebelum dibuang dan kemana dibuangnya (Ginting, 2007).
Limbah cair dihasilkan dari proses pengolahan karena menggunkan air sebagai bahan baku produksinya, dari bahan baku yang mengandung air, maupun air ikutan seperti proses pencucian, pendinginan mesin, maupun pengecoran. Sehingga air ini harus dibuang dalam volume yang cukup besar. Air buangan ini membawa sejumlah padatan dan partikel baik yang terlarut maupun mengendap, sehingga  membuat  air  menjadi  terkontamnasi  oleh  B3.  Jenis  industri  yang menghasilkan limbah cair di antaranya adalah industri pulp dan rayon, pengolahan crumb rubber, besi dan baja, kertas, minyak goreng, tekstil, elektroplating, plywood dan lain lain. (Kristanto, 2004).
Karena limbah cair berpotensi merugikan makhluk hidup dan lingkungan, permasalahan pencemaran air akibat limbah cair harus ditanggulangi dan para penanggung jawab usaha yang melakukan pencemaran wajib melakukan pemulihan. Jika pencemaran ini dibiarkan, maka akan dikenakan ancaman pidana (Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air).

2.1.1.2 Limbah Gas dan Partikel

Limbah gas dan partikel adalah limbah yang dibuang ke udara, yang terbawa angin sehingga memperluas jangkauan pemaparannya. Bahan-bahan tersebut bercampur dengan udara basah sehingga massa partikel bertambah dan pada malam hari turun ke tanah bersama-sam embun. Ketika bahan-bahan ini dilepas, maka terjadi penambahan unsur gas udara yang melapaui batasnya sehingga kualitasnya menurun. Limbah yang terjadi dapat disebabakan oleh reaksi kimia, kebocoran gas, maupun penghancuran bahan. Jenis industri yang menjadi sumber pencemaran udara adalah industri besi dan baja, semen, kendaraan bermotor, pupuk, aluminium, pembangkit tenaga listrik, kertas, kilang minyak, dan pertambangan. Beberapa jenis industri yang menghasilkan limbah gas dan partikel dapat dilihat pada Tabel 1 (Kristanto,2004).
Beberapa senyawa yang dihasilkan dari kegiatan industri di atas bertanggung jawab pada pemanasan global, yaitu karbondioksida (CO2), metana (CH4), dan Nitrousoksida (N2). Akumulasi senyawa-senyawa ini mengakibatkan penebalan gas di permukaan bumi, sehingga mengakibatkan peningkatan suhu di bumi dan menyebabkan kekacauan iklim di permukaan bumi. Pada gambar di bawah ini, dijelaskan bahwa kontribusi limbah industri, proses industri, dan limbah mencapai 17,4% terhadap pemanasan global.
Dampak pencemaran lingkungan sebenarnya tidak semata-mata disebabkan oleh aktivitas industri dan teknologi, namun juga faktor lain yang menunjang kegiatan produksi tersebut seperti faktor penyedia listrik, yang merupakan salah satu faktor penyerap terbesar pemakaian bahan bakar fosil seperti batu bara dan minyak bumi. Dari bentuk-bentuk pencemar udara, sekitar 75%-nya adalah berasal dari pemakaian bahan bakar fosil (Wardhana,1995).

2.1.1.3 Limbah Padat

Limbah padat adalah hasil buangan industri yang berupa potongan kayu, serpihan logam, lumpur, kerak kotoran, kertas, serta debu yang sukar dihindari karena sifat alami bahan baku tersebut yang tidak dapat diolah seratus persen menjadi produk jadi. Sumber-sumber limbah padat adalah pabrik plywood yang menghasilkan limbah kayu, abu pembakaran dari ruang boiler, lumpur dari treatment pulp dan rayon, serta kemasan-kemasan pembungkus. (Ginting, 2007). Menurut Kristanto (2004), secara garis besar limbah padat dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Limbah padat yang mudah terbakar

Limbah padat yang sukar terbakar

Limbah padat yang mudah membusuk

Debu

Lumpur

Limbah yang dapat didaur ulang

Sedangkan   berdasarkan   klasifikasi   limbah   padat serta akibat-akibat yang ditimbulkannya dibedakan menjadi :
Limbah padat yang dapat ditimbun tanpa membahayakan

Limbah padat yang dapat ditimbun tetapi membahayakan

Limbah padat yang tidak dapat ditimbun



Artikel Terkait

This Is The Oldest Page


EmoticonEmoticon